Kamis, 19 April 2012

Berfikir Secara Mendalam


Irvanuddin

Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam", seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti:
"ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf, 7: 205)
"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS. Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." (QS. Al-Mu'minuun, 23: 84-90)

A.      Berpikir Dapat Membebaskan Seseorang Dari Belenggu Sihir
Membaca Kitab Mukhtar Al-Hadits
Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!
Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah saya mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya.
Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus?
Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.
Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.
Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana "kondisi lalai" dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.
Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.
Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22)
Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.
Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

B.      Seseorang Dapat Berpikir Kapanpun Dan Dimanapun
Irvanuddin
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang Bahkan didalam penjara "Rumah Tahanan".
Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:
Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.
Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah" dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran, 3: 190-191).
Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

C.      Berpikir Dengan Ikhlas Sambil Menghadapkan Diri Kepada Allah
Shalat
Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.
Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an :
"Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)." (QS. Ghaafir, 40: 13).


Rabu, 18 April 2012

Mata Yang Tidak Menangis Di Hari Kiamat


Irvanuddin

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.
Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, "Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal.
Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt.
Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah.
Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah."
Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?
Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: "Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).
Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.
Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.
Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, "Aku takut kepada Allah".
Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.
Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.


Rumput Yang Bergoyang


Ahmad Fauzi Hrp, Irvanuddin Dan Azrul Hasibuan

Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ebiet G.Ade ketika belasan atau puluhan tahun yang lalu, dalam lagu yang meledak menjadi hits, dia menggugat dan ingin bertanya pada rumput yang bergoyang. Adakah dia tak lagi punya asa? Adakah dia frustasi?
Namun saya bisa menangkap apa isi gugatannya ketika dia berteriak, "Mengapa di tanahku terjadi bencana?" Inikah juga yang ditanyakan bangsa kita kini?
Konon, Ebiet sudah kabarkan berita ini kepada laut, karang, ombak bahkan matahari. Sayang, dia mengaku tak memperoleh jawaban. Yang bisa dia lakukan adalah menduga-duga. Mungkinkah ini murka Tuhan? Mungkinkah ini karena alam tak lagi bersahabat?
Entahlah. Boleh jadi Tuhan memang sedang murka. Namun saya kira benar bahwa alam tampaknya sedang tak bersahabat dengan kita. Merapi memuntahkan laharnya. Belum habis air mata kita, Irian Jaya dan Samarinda diterjang banjir.
Api. Air. Inikah tanda kemarahan alam? Jika iya, mengapa Tuhan ijinkan alam untuk mengeskpresikan kegalauannya? Sampai kapan Tuhan ijinkan alam untuk marah? Alam marah, benarkah ini juga berarti Tuhan sedang marah?
Ah, tiba-tiba gugatan dan renungan Ebiet belasan tahun yang lalu terdengar kembali dan mampir ke kamar saya. Bedanya, saya masih punya harapan, walaupun diimbuhi sedikit rasa cemas.Harapan itulah yang membuat saya tak bertanya pada rumput yang bergoyang. Harapan itulah yang membuat saya "merayu" Tuhan dalam do'a-do'a saya. Semoga Tuhan segera menyuruh alam berhenti "ngambek".
Rumput bergoyang,
merapi berguncang,
dataran tergenang
Ah...duhai alam, terimalah salamku, bukankah tak baik kalau kita bertengkar lebih dari tiga hari?




Minggu, 15 April 2012

Inilah Kisahku "Irvanuddin Anak Desa Asal Lampung Tengah"


Irvanuddin

Asslamu’alaikum Wr. Wb
Saya bernama Irvanuddin, lahir di Sumber Bahagia, Lampung, Indonesia. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah saya bernama Agus Supardi Dan Ibu bernama Siti Aisyah yang mana notabenenya keluarga saya tergolong kelas menengah kebawah dalam strata ekonomi.
Awal pendidikan saya di Sekolah Dasar Negeri 03 (SDN-03) Sumber Bahagia. Selama 6 tahun saya menjalani pendidikan tingkat dasar dan Alhamdulillah tidak pernah tinggal kelas. Kemudian saya melanjutkan sekolah menengah pertama di MTs Ma’arif 11 Seba. Dalam proses pendidikan yang saya jalani di MTs Ma’arif 11 mengalami beberapa problem atau masalah, dari masalah ekonomi dan masalah-masalah yang lainya. Namun saya sangat bersyukur terhadap komitmen dan konsisten kedua orang tua saya untuk terus menyekolahkan, agar saya bisa seperti teman-teman yang lainya.
Saya sekolah naik sepeda ontel, setiap hari berangkat pagi dan terkadang terlambat sampai sekolah. Awalnya saya sedikit gengsi bersekolah dengan menggunakan sepeda. Namun setelah mendapatkan nasehat-nasehat “Wejangan” dari orang-orang yang lebih tua dari saya, dan akhirnya saya sadar bahwa memang keadaan keluarga tidak mendukung untuk berbuat lebih. Menjalani kehidupan yang serba pas-pasan tidak menyurutkan niat saya untuk menempuh pendidikan menengah tingkat pertama. Namun terkadang juga terbesit dihati ingin seperti teman-teman yang lain, yang mana bisa berangkat sekolah naik sepeda motor.
In Memorian MTs Ma'arif 11 Se-Ba Lampung Tengah
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Akhirnya saya sudah kelas IX MTs, yang mana kelas IX MTs merupakan strata tertinggi dalam pendidikan tingkat pertama. Pada saat inilah permasalahan-permasalahan mulai berdatangan, dari biaya SPP, uang Buku, uang ujian dan masalah keluarga lainya. Pernah terbesit dalam hati dan fikiran saya untuk berhenti sekolah, karena permasalahan ekonomi keluarga.
Selanjutnya tibalah masa Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN). Pada suatu hari dapat pengumuman dari pihak sekolah bahwasanya setiap siswa/i harus membayar biaya ujian untuk mengikuti pelaksanaan UAS dan UAN. Setelah selesai pelajaran saya pulang kerumah, sesampainya dirumah kemudian saya beritahukan kepada orang tua bahwasanya ada pengumuman dari pihak sekolah mengenai administrasi biaya UAS dan UAN. Tentu saja orang tua menjawab “Iya nanti dicarikan”.
Beberapa hari kemudian ketika saya berangkat ke sekolah Ibu memberikan uang yang mana jumlahnya hanya separoh dari biaya yang dibutuhkan. Sesampainya disekolah, saya berikan uangnya kepada petugas TU yang saat itu masih mbak Khairul (Irul). Saya bilang kepada mbak Irul, saya hanya bayar separoh dulu mbak?. Kemudian mbak Irul menjawab : ya sudah tidak apa-apa, bisa dilunasi kapan-kapan. Alhamdulillah  dalam benak saya, terimakasih ya mbak?, Iya sama-sama jawabnya.
Waktu ujianpun tiba, para siswa/I pun berpakaian rapi dan bersiap untuk melaksanakan ujian. Mulailah ujian hari pertama, kedua dan hari ketiga, maka selesailah ujian yang dilaksanakan. Beberapa minggu kemudian, tibalah saat pengumuman hasil ujian. Maka perasaanpun dihantui perasaan was-was dan takut kalau-kalau tidak lulus. Dan akhirnya dari hasil pengumuman yang telah dimumkan, kelas kami lulus 100%. Senangnya dalam hati, teman-teman dan saya bisa lulus 100%.
Selanjutnnya, setelah lulus MTs tidak tahu mau kemana arah harus berpijak. Mau sekolahkah? Atau mau berhenti sekolah “tidak melanjutkan sekolah”. Karena pada waktu itu ijazah saya belum diambil dari pihak sekolah atau masih ditahan pihak sekolah dekarenakan belum melunasi biaya administrasi. Saya berfikir, bagaimana caranya bisa mendapatkan uang untuk melunasi biaya tersebut. Kemudian saya dan Ayah “Bapak” berinisiatif untuk membuat batu bata dari tanah liat untuk dijual kepada orang yang membutuhkan. Niat hati, hasil uang penjualan tersebut akan digunakan untuk pengambilan ijazah atau melunasi biaya administarasi sekolah. Alhamdulillah dengan susah payah akhirnya proses pembuatan batu bata lancar tanpa ada halangan apapun dan secepatnya dijual kepada orang yang membutuhkan. Dan akhirnya keinginan untuk melunasi administrasi sekolah yang tersendat bisa terselesaikan serta bisa mengambil ijazah.
Ijazahpun sudah ditangan, namun saya masih bingung mau melanjutkan sekolah atau tidak. Yang menjadi dasar kebingungan saya adalah masalah ekonomi keluarga saya yang kurang mendukung. Beberapa minggu kemudian setelah berfikar dan berfikir serta mendapatkan dukungan atau restu orang tua, akhirnya saya melanjutkan sekolah menengah atas di MA Ma’arif 03 seba, Lampung Tengah.
Begitu juga dengan masalah sebelumnya, saya ingin seperti teman-teman yang lain. Yang mana bisa sekolah naik sepeda motor. Namun apalah daya, ekonomi keluarga tidak mendukung untuk saya bisa memiliki sepeda motor. Akhirnya saya bersekolah dengan mengendarai sepeda ontel dan terkadang berjalan kaki. Saya sekolah jarang diberikan uang saku bahkan bisa dikaatakn tidak pernah mendapatkan uang saku dari orang tua. Untung saja ada teman-teman yang mau berbagi, kadang-kadang mereka mengajak saya ke kantin sekolah.
Orang tua saya berprofesia sebagai kuli bangunan, buruh diladang, dan bercocok tanam disawah. Begitulah kehidupan keluarga saya, yang memang bisa dikatakan dibawah garis kemiskinan. Namun pada suatu hari ada orang dari medan membutuhkan karyawan untuk bekerja ditempatnya. Kabar tersebutpun sampai ke orang tua saya, dan akhirnya melalui proses musyawarah yang sangat panjang kedua orang tua saya memutuskan untuk berangkat ke Kota Medan guna mengadu nasib. Orang tua saya di Medan bekerja di Warung Bakso Mas Harno.
PK IPNU-IPPNU MA Ma'arif 03 Se-Ba, Lampung Tengah
Sayapun ditinggal dirumah dengan adik yang bernama Ahmad Fauzi. Kegiatan sehari-hari sayapun bertambah, dari mulai sekolah dan menjadi orang tua kedua untuk adik saya. Selain bersekolah, saya juga bekerja di bengkel diesel dan las listrik pak Usman, tepatnya di Desa Sumber Bahagia, Lampung Tengah. Alhamdulillah dengan adanya pekerjaan sampingan, saya bisa mendapatkan uang saku dari hasil pekerjaan tersebut. Beberapa bulan kemudian, Pakde saya yang ada di Metro menelpon bahwasanya Adik saya disekolahkan disana saja. Adik sayapun akhirnya bersekolah disana, sayapun tinggal sendirian dirumah. Kegiatan saya dirumah pada saat itu hanya bekerja di bengkel, mengaji di Pon-Pes El-Firdaus dan bersekolah. Setelah beberapa bulan kemudian, ada pemilihan pimpinan organisasi di sekolah kami (MA Ma’arif 03) dalam hal ini Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU (PK IPNU-IPPNU). Dalam pemilihan tersebut ada 5 calon kandidat sebagai ketua PK IPNU-IPPNU, dan saya adalah salah satunya karena dicalonkan oleh rekan-rekanita pada saat itu. Padahal sebenarnya saya tidak sedikitpun ada keinginan untuk menjadi ketua IPNU, alasanya karena saya takut kalau ada acara-acara disuruh memberikan kata sambutan. Dan pada pemilihan tersebut saya menang mutlak atau dipercayakan sebagai ketua IPNU periode 2007/2008 dan Ketua IPPNUnya oleh rekanita Eka Hepy Jayanti. Pada waktu itu, setelah saya terpilih menjadi ketua IPNU yang baru diberikan waktu untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan sebagai ketua IPNU yang baru. Sayapun mengalami keringat dingin dan gugup, terpaksa dan tidak terpaksa akhirnya saya maju di depan forum. Saingkat saja saya hanya mengucapkan salam, kemudian ucapan terimakasih dan tutup salam. Beberapa bulan kemudian, PK IPNU-IPPNU mengadakan acara rutin tiga bulan sekali yaitu acara Khatmil Qur’an. Persiapan demi persiapan pun telah dipersiapkan oleh seluruh anggota PK IPNU-IPPNU beserta anggota panitia , dari mulai dekorasi, konsumsi, alat-alat pendukung dan lain sebagainya. Dan yang sangat sibuk adalah saya, yang mana saya harus menghafal teks kata sambutan dan berlatih di depan cermin setiap ada kesempatan atau waktu. Tibalah waktu pelaksanaan acara tersebut dan acara berjalan dengan pedoman yang telah dibuat. Dan waktunya sambutan dari ketua PK IPNU, maka dipanggilah Nama saya. Terpaksa dan tidak terpaksa saya dengan percaya diri maju dan memberikan kata sambutan dibarengi rasa nerves “Grogi” serta keringat panas dingin. Akhirnya sayapun pelan dan pasti, selesai memberikan kata sambutan walaupun sedikit tidak Pe-De. Acara selanjutnyapun berlangsung dengan khidmat dan tertib, maka selesailah acara tersebut.
PK IPNU-IPPNU pun tiap seminggu sekali mengadakan rapat koordinasi dan konsolidasi membicarakan tentang pengembangan program-program. Pada saat itu pembinanya adalah Bapak Sugianto SPd.I, beliau memberikan nasehat yang isinya “Rekan Dan Rekanita sekalian harus bisa bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk meberikan kontribusi yang positif demi kemajuan PK IPNU-IPPNU ini”.
Panitia Pelaksana Kegiatan Pelatihan Keorganisasian PK IPNU-IPPNU
Acara demi acarapun terlaksana, namun pada suatu hari ketika sedang rapat ada pernyataan yang mengejutkan, dalam hal ini Bapak Sugianto SPd.I mengundurkan diri sebagai penasehat PK IPNU-IPPNU. Keadaanpun pada waktu itu hening dan senyap, para anggota PK IPNU-IPPNU pun hanya berdiam tidak berani memberikan pendapat. Setelah pengunduran Bapak Sugianto SPd.I, PK IPNU-IPPNU pun berjalan sendiri tanpa ada bimbingan dari seorang Pembina. Namun pada saat rapat kecil, datanglah Bapak Adi Hasan Basri SH.I yang mana beliau memberikan beberapa nasehat dan masukan mengenai perkembangan PK IPNU-IPPNU kami. Setelah itu kami memutuskan untuk menjadikan Bapak Adi Hasan Basri SH.I sebagai Pembina kami. Bapak adi pun tidak mengiyakan, beliau hanya mengatakan “saya tidak mau menjadi Pembina kalian, kalau mendampingi atau memeberikan masukan kepada kalian saya mau”. Kamipun tidak bisa memaksa kehendak beliau, dan PK IPNU-IPPNU melanjutkan beberapa program yang tertunda. Beberapa minggu kemudian tercetuskanlah usul mengenai kegiatan pelatihan keorganisasian, akhirya digodoklah usul tersebut. Maka dibicarakanlah mengenai keperluan atau kebutuhan apa saja yang harus dipersiapakan untuk acara pelatihan tersebut. Maka dimusyawarahkanlah mengenai kebutuhan apa saja yang harus dipersiapakan, langkah awal yaitu pembentukan Kepanitiaan. Dan ditunjuklah rekan Sukari sebagai ketua panitia. Beberapa hari kemudian diadakan rapat koordinasi dan konsolidasi antara PK IPNU-IPPNU dan seluruh anggota panitia yang inti pembahasnaya adalah pelaksanaan pelatihan keorganisasian, dalam hal ini mengenai dana, nara sumber, peserta, tempat, konsumsi dan lainya. Setelah mufakat didapat, maka seluruh anggota PK IPNU-IPPNU dan seluruh Panitia bergerak sesuai tugas masing-masing. Setelah beberapa minggu dan kebutuhan yang dianggap urgen sudah tercukupi, maka dilaksanakanlah kegiatan tersebut. Acara kegiatan tersebut dilaksankan digedung MA Ma’arif 03 Seputih Banyak, Lampug Tengah. Dengan nara sumber : Bapak Mu’aly Irsyam S.Ag, Ibu Dra. Mursiyatun dan Bapak Drs. Nur Salim. Para pesertanya perwakilan dari SMA dan MA Se-Kecamatan Seputih Banyak. Alhamdulillah acara tersebut berjalan lancar tanpa halangn apapun, ini lantaran keinerja panitia pelaksana yang bekerja secara maksimal.
Setelah kegiatan tersebut periodisasi PK IPNU-IPPNU sayapun habis, maka tibalah PK IPNU-IPPNU mengadakan pemilihan ketua baru, pada saat itu pimpinan sidang dipimpin oleh rekan Zainul Chusna (Mantan Ketua PK IPNU sebelum saya). Saya tidak mencalonkan diri, karena saat itu saya sudah kelas XII dan tidak bisa konsentrasi lagi dalam organisasi karena harus focus untuk persiapan akhir sekolah. Terpilihlah rekan M. Abdul Wahab Sebagai ketua PK IPNU dan rekanita Anita Rahmawati Sebagai Ketua PK IPPNU dalam muskom tersebut.
Sebenarnya sejak awal mengikuti organisasi diatas, saya tidak tinggal dirumah lagi. Saya tinggal ditempat rekan saya Zainul Chusna tepatnya di Desa sido Binangun, orang tua beliau sangat baik dan menganggap saya sebagai anaknya sendiri. Orang tua mas Zainul berprofesi se bagai pembuat kue, maka selain sekolah saya juga membantu keluarga mas Zainul, dalam hal ini membantu membungkus kue dan mencarikan rumput peliharaan setelah sepulang sekolah bersama Mas Zainul.
Saya dan Mas zainul di MA Ma’arif merupakan salah satu personel Group Music yang ada Di Ma’arif. Saya sebagai keyboardist dan mas Zainul sebagai Vokalis. Personilnyapun tidak hanya dari kalangan siswa/I melainkan ada dari kalangan guru yaitu Bapak M.Toifur M.A, Bapak Adi Hasan Basri SH.I, Bapak Miftahul Huda SPd.I dan yang lainya. Group music kamipun juga sering melakukan tour ke desa-desa guna untuk mengenalkan Ma’arif ke halayak umum atau masyarakat.
In Memorian MA Ma'arif 03 Se-Ba, Lampung Tengah 
Beberapa bulan kemudian, akhirnya ujianpun akan dilaksanakan. Maka saya dan teman-temanpun mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi ujian tersebut, dari mulai kegiatan les, mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu dan lain sebagainya. Dan tibalah saat ujian dilaksanakan, nomor ujianpun sudah didapat. Maka setelah bunyi bel berbunyi, kamipun langsung masuk keruang yang telah disediakan oleh panitia ujian dan kamipun duduka seuai nomor yang tertera pada kartu ujian. Dan beberapa hari mengikuti ujian, maka sudah selesailah ujian akhir sekolah (UAS/UAN). Beberapa minggu kemudian waktunya pengumuman hasil ujian, dalam pengumuman hasil ujian para siswa diberikan amplop masing-masing yang isinya adlah tulisan lulus/tidak lulus. Pada saat itu Alhamdulillah saya mendapatkan amplop yang berisi tulisan Lulus, dalam hati sayapun senangnya bukan main. Namun ada juga teman-teman yang dikerjai oleh pihak sekolah, yang mana mereka disuruh mengambil amplop tersebut dikantor kepala sekolah. Maka keadaanpun mencekam dan sebagian teman cewek ada yang menangis histeris, takut kalau tidak lulus. Kamipun menunggu keluarnya teman-teman yang masuk ke ruang kepala sekolah perasaan was-was. Dan akhirnya, Alhamdulillah kami lulus 100%.
Acara perpisahanpun dilaksanakan, dengan penuh suka cita kami merayakan kelulusan ini. Kami merasa berhutang budi kepada para dewan guru yang dengan susah payah beliau mendidik kami tanpa ada ras bosan.
Bakso Mas Ragil, Medan
Setelah kelulusan tersebut, Kemudian teman-temanpun ada yang kuliah, bekerja, nikah dan lain sebagainya. Saya menelpon orang tua saya yang ada di Medan, mengenai tindak lanjut saya. Apakah saya kuliah atau kerja?. Orang tua sayapun menyuruh saya untuk berangkat ke Medan guna untuk membantu mengelola warung bakso yang telah dirintis orang tua saya. Sayapun berangkat ke Medan dengan niat Biamillah mudah-mudahn diberikan jalan kemudahan kesana dan mampu menjalani hidup dikota orang. Alhamdulillah saat ini, kehidupan saya mengalami sedikit perubahan dan saya saat ini menjalani aktivitas sebagai abang atau mas tukang bakso serta menjadi mahasiswa disalah satu Universitas swasta di Kota Medan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Hormat Saya,
Penulis


Irvanuddin







  


                                                      

Ketika Bumi Menjadi Sempit


Irvanuddin Cs

Pernahkah anda merasakan bumi yang kita diami ini menjadi sempit sehingga napas kita menjadi sesak? Jika belum, dengarlah kisah Ka'ab bin Malik lima belas abad yang lampau.
Ketika Nabi yang mulia berangkat perang bersama para sahabat beliau dalam perang Tabuk, ada tiga orang sahabat yang enggan ikut dalam barisan pasukan Nabi, yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'ah. Ka'ab bercerita, "Ketika kudengar berita bahwa Nabi telah kembali dari Tabuk, terpikir dalam hatiku untuk berdusta. Aku berpikir bagaimana supaya selamat dari kemurkaan Nabi. Namun ketika Nabi sudah sampai di Madinah, aku berpikir bahwa aku tidak akan selamat sedikit pun.
Aku kemudian memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya mengapa aku tidak ikut berperang bersama beliau." Nabi datang di Madinah. Aku temui dia. Beliau tersenyum, senyum marah.
"Kemarilah," ujar Nabi. Aku duduk di dekat beliau. Nabi yang mulia bertanya, "Apa yang menyebabkanmu tidak ikut berperang?" Aku berkata, Ya Rasul Allah, jikalau aku menghadap penduduk dunia selain engkau, tentu aku sanggup menyelamatkan diri dari dari kemurkaan dengan mengajukan alasan. Tetapi, demi Allah, sekiranya aku berdusta kepada engkau agar engkau ridha, mungkin Allah segera membuatmu marah kepadaku. Demi Allah, aku tidak mempunyai alasan apapun. Demi Allah, waktu aku meninggalkan diri, aku berada dalam keadaan yang baik (dan mampu untuk berperang).
Rasul bersabda, "Orang ini berbicara benar. Pergilah, sampai Allah memberikan keputusan tentang kamu." Nabi kemudian mengisolir Ka'ab dan kedua temannya sampai datang putusan dari Allah. Nabi melarang kaum Muslim berbicara kepada mereka. Bahkan, isteri mereka pun kemudian dilarang mendekati mereka. Wajah umat Islam berubah kalau melihat Ka'ab. Mereka segera memalingkan wajahnya.
Ka'ab bercerita, "Aku shalat berjam'ah bersama kaum Muslimin. Aku berkeliling kota dan pasar. Tidak seorangpun menegurku. Aku datangi Rasul sesudah shalat. Aku ucapkan salam kepadanya. Aku ingin tahu apakah beliau menggerakkan bibirnya membalas salamku.Aku shalat didekatnya dan mencoba melirik kepadanya. Usai shalat beliau melihatku, tetapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aku tinggalkan Nabi. Aku berjalan dan berjalan, sampai ke rumah saudara sepupuku, Abu Qatadah. Kuucapkan salam, tetapi demi Allah ia tidak menjawab salamku. Aku berkata, "Hai Abu Qatadah, tahukah engkau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Aku ulangi beberapa kali. Abu Qatadah hanya diam. Aku ulangi lagi. Ia menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Air mata menggelegak di pelupuk mataku. Aku beranjak dari rumahnya."
Sedang mengikuti perkuliahan
Kejadian ini berlangsung lima puluh hari. Ka'ab dan kedua kawannya mengasingkan diri di sebuah bukit. Keluarganya mengantarkan makanan kepada mereka. Suatu hari Ka'ab berkata, "Orang-orang dilarang berbicara kepada kita. Kita pun sepatutnya tidak saling berbicara. Setelah itu mereka tinggal berjauhan.
Datang pula utusan dari Syam yang bermaksud merangkul Ka'ab dan kedua temannya agar membelot dari Islam dan bergabung dengan non-Muslim. Ka'ab berkata, "Tawaran ini juga bagian dari cobaan." Ka'ab menampiknya dan tetap setia dalam Islam meski telah diisolir oleh umat Islam.
Setiap hari Ka'ab dan kedua rekannya berdo'a, beristighfar dan menangis. Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat: "
(Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang (QS 9: 118)
Ka'ab mendengar berita pengampunan ini setelah subuh. Ia memeluk pembawa berita. Ia rebahkan dirinya bersujud syukur. Segera ia temui Rasul. Rasul menyambutnya dengan senyum yang bersinar. Ketika melihat sambutan Nabi seperti itu (yang berbeda dengan sebelumnya). Ka'ab tidak dapat menahan air matanya. Ia menciumi tangan dan kaki Rasul yang mulia. Karena ia mendapat ampunan itu berkat kejujurannya, ia berjanji bahwa sejak itu lidahnya tidak akan pernah mengucapkan kebohongan. (Tafsir al-Durr al-Mantsur 4:309-315; Jalaluddin Rakhmat, 1993: 77-80)




Jumat, 13 April 2012

Kepedulian Sosial Dalam Islam


Ahmad Deniejab dan Irvanuddin

Dalam kesempatan kali ini izinkan saya untuk pertama-tama menyampaikan beberapa kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. Boleh jadi sebagian dari kita sudah hafal isi kisah tersebut namun kesibukan sehari-hari membuat kita sejenak terlupa, boleh jadi sebagian dari kita sudah paham betul esensi dari kisah yang akan disampaikan di bawah ini, namun tak ada salahnya untuk sedikit merenungi kembali kisah-kisah ini dan berkaca ke lubuk hati kita. Di bagian lain kita akan lihat sejumlah ayat Qur'an yang berkenaan dengan tema utama kita kali ini.
Kita terbang lima belas abad kebelakang. Di suatu tempat terlihat Rasulullah saw berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Sekedar menyebut beberapa nama sahabat yang hampir semuanya bekas budak, yaitu Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, berupa jubah bulu yang kasar. Tetapi mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam.
Serombongan bangsawan yang baru masuk islam datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, "Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda."
Uyainah bin Hishn menegaskan lagi, "Bau Salman al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai sahabat nabi yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpulbersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami."
Tiba-tiba turunlah malaikat jibril menyampaikan surat al-An'am [6] ayat 52:
"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu,yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasukorang-orang yang zalim."
Nabi saw segera menyuruh kaum fukara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. "Salam 'Alaikum," kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy.
Setelah itu, turun lagi surat al-Kahfi [18] ayat 28:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."
Sejak itu, apabila kaum fukara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka.Seringkali beliau berkata, "Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya."
Sekarang bukalah cermin di hati kita. Tariklah nafas sejenak untuk berkaca ke dalam cermin itu. Apakah kita seperti pembesar Quraisy yang terganggu dengan bau tubuh orang miskin. Apabila tamu datang, kota kita bersihkan dan mereka, kaum fukara, dipinggirkan. Kota baru gemerlap bila mereka disingkirkan. Pemandangan baru indah bila rumah-rumah kumuh digusur. Ah...betapa perilaku kita lebih menyerupai pembesar quraisy daripada perilaku Nabi Yang Mulia.
Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang sahabat, Sa'ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, "mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?" Sa'ad menjawab, "tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku." Nabi yang mulia berkata, "ini tangan yang dicintai Allah," seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh.
Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke bawah. Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang kita. Setelah Nabi, adakah di antara kita yang mau mencium tangan orang miskin? Bukankah dengan status yang kita miliki, gelar akademik yang kita raih, kesejahteraan yang kita nikmati, kita merasa jauh lebih pantas bila orang miskin mencium tangan kita. Kalau hati terasa berat, andaikata kultur tak mengizinkan kita berbuat hal itu, manakala ego terasa meningkat, bukankah paling tidak kita ganti rasa hormat yang seharusnya kita berikan dengan kasih sayang pada mereka. Bila Nabi mau mencium tangan mereka, maukah kita untuk paling tidak menyisihkan sebagian rezeki yang kita peroleh sebagai rasa sayang kita pada mereka.
Di atas kita telah mengutip sejumlah kisah dalam hidup Nabi. Bukankah sebagai ummatnya kita telah berikrar untuk menjadikan segala perilaku beliau sebagai contoh teladan (uswatun hasanah). Untuk menguatkan bahwa Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial, mari kita buka Al-Qur'an. Bukankah Al-Qur'an adalah rujukan kita yang pertama dalam hidup ini.
1.       Surat al-Balad [90] ayat 10 -18
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi MAKAN pada hari kelaparan(kepada) anak YATIM yang ada hubungan kerabat, atau orang MISKIN yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang beriman dan saling berpesanuntuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayangMereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan"
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa ada dua jalan yang bisa kita pakai dalam memanfaatkan harta kita. Al-Qur'an menyarankan kita untuk mengambil jalan yang sukar dan mendaki, yaitu memerdekakan budak atau memberi makan pada anak yatim atau orang miskin. Allah tidak menjelaskan tentang jalan yang mudah, melainkan memberi contoh jalan yang sukar.
Mengapa disebut jalan yang sukar? karena kebanyakan manusia enggan atau merasa berat atau merasa sukar untuk melakukannya. Bila kita mampu mengalahkan rasa berat dan rasa sukar pada diri kita dalam beramal, maka Allah menjanjikan kita termasuk golongan yang kanan; ahli surga. Bukalah cermin hati kita sekali lagi. Apakah kita merasa sukar untuk beramal pada orang miskin dan anak yatim? Hanya cermin hati yang teramat dalam yang mampu menjawabnya dengan jujur.
2.       Surat al-Ma'arij [70] ayat 19-25
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi KIKIR, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikania amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan SHALAT, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam HARTAnyatersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)"
Secara tegas Allah menyebutkan bahwa keluh kesah dan kikir itu telah menjadi sifat bawaan manusia sejak ia diciptakan. Allah melukiskan sifat manusia dengan sangat baik. Bagi saya pribadi, ayat di atas telah menelanjangi sifat kita. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita sering berkeluh kesah, sebaliknya, kalau memiliki banyak harta kita cenderung untuk kikir. Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan (keluh kesah & kikir) kita tersebut tidak menjelma atau dapat kita padamkan.
Allah menyebutkan, paling tidak, dua jalan. Pertama, mengerjakan sembahyang secara kontinu. Kedua, menyadari bahwa dalam harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin. Dua resep ini insya Allah akan mampu memadamkan sifat keluh kesah dan sifat kikir yang kita miliki.
Sekali lagi, bukalah cermin hati kita. Tahanlah nafas kita untuk sejenak. Tidakkah kita rasakan bagaimana Allah menyinggung perilaku buruk kita dalam ayat-ayat-Nya yang suci. Subhanallah....
3.       Surat al-Qalam [68] ayat 17-33
"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpahbahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan : insya Allah
Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,lalu mereka panggil memanggil di pagi hari
"Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya."
Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari ini janganlah ada seorang MISKINpun masuk ke dalam kebunmu." Dan berangkatlah mereka dipagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (meonolongnya),
Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar oarng-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (darimemperoleh hasilnya)"
Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepadaTuhanmu)?"
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalahorang-orang yang melampaui batas.Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu;sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita"
Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui"
Sekelompok ayat di atas menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi sebelum masa Rasulullah. Kisah pemilik kebun di atas melukiskan dengan sangat baik betapa harta manusia itu tak ada artinya dibandingkekuasaan Allah. Kebun yang sudah sekian lama diurus dan tinggal sekejap mata saja untuk dipetik hasilnya menjadi musnah terbakar. Apa kesalahan pemilik kebun tersebut sehingga mendapat azab sedemikian rupa?
Pertama, mereka lupa bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Ini dilukiskan dalamayat di atas ketika mereka tidak menyebut insya Allah; mereka merasa pasti akan meraih hasil yang luar biasa. Mereka lupa bahwa sedetik kedepan kita tak tahu apa yang terjadi dengan hidup kita. Kita tak tahu "skenario" Allah terhadap diri kita.
Kedua, mereka bersifat kikir. Mereka sudah bersiap-siap agar orang miskin tak bisa masuk ke kebun mereka saat panen tiba. Allah murka pada mereka. Allah turunkan azab-Nya pada mereka. Di akhir ayat Allah mengingatkan bahwa azab yang Allah timpakan pada pemilik kebun hanyalah azab dunia; sedangkan azab akherat jauh lebih besar lagi!
Cermin hati kita mengatakan bahwa agar tidak tertimpa azab Allah di dunia, manakala kita memiliki kelebihan rezeki maka janganlah sungkan untuk memberi sebagian pada orang miskin. Cermin hati telah berkata, mampukah kita melaksanakan kata-hati kita?
Kalau Allah mampu memusnahkan dengan amat mudah kebun yang siap dipanen, jangan-jangan Allah pun akan memusnahkan sumber penghasilan kita, bila kita berlaku kikir! Na'udzu billah...
Demikianlah sekedar tulisan untuk penamabah wawasan kita. Sekedar saling ingat mengingatkan bahwa di cermin hati kita telah tergambar sejumlah orang yang membutuhkan kepedulian kita. Persoalannya, maukah kita melihat ke dalam cermin tersebut?

Koleksi Perpustakaan